Klematis
Add a description of the image here
Klematis
Add a description of the image here
Klematis
Add a description of the image here
Klematis
Add a description of the image here
-->

Wednesday, April 27, 2011

“Eugh.., a-aku cinta kamu John. Tiga puluh menit yang lalu aku jatuh cinta padamu. John dari Krakow,…”

Ada keributan. Di kamar sebelah. Karena suara seksi Elvis Presley.
Di dalam ruangan satunya lagi. Agak pengap. Tampaknya ruangan itu baru disemprot aerosol untuk mengusir nyamuk. Hari ini hampir genap pertengahan tahun 1962. Dua tahun yang lalu, aerosol adalah penemuan umat manusia yang cukup menggemparkan. Membuat dia benda yang sedikit nge-pop.
Membuka pintu. Dari luar. Sebuah sosok yang mungkin kodifikasi dari sedikit bayangan gambar para malaikat berambut pirang di jendela gereja dan unsure mahluk local dunia, manusia. Seorang wanita tepatnya.
Perlahan wanita pirang itu mulai membuka baju hangatnya. Kemudian Stocking marun. Tampaknya longdress-nya yang setengah terbuka sampai paha. Mengambil sigaret. Mengepulkan asap perdana.
Agak termenung selama kurang dari satu menit.
Karena merasa ada yang janggal di ruangan itu. Sebuah suara nafas. Dari kolong tempat tidur.
“Haloo?........” Marilyn.
“Hmm, kamu keluar saja dari situ..” Marilyn suaranya agak keras.
Akhirnya sesosok tubuh kisut keluar dari situ. Karena selama tiga hari tiga malam, dia cuma makan dari remahan biskuit sisa makan pagi hotel. Berdiri. Merenggangkan otot. Mengupas-ngupas baju yang dekil. Batuk-batuk. Agak gugup.
“Kamu siapa?” Marilyn bertanya. Dengan mata sendunya yang tajam. Tampaknya dia sudah biasa dikuntit orang.
“Euh, saya John. John dari Krakow” John agak tergugup. Menyebut sebuah nama kota di Polandia. Negara komunis yang lusuh saat ini. Serupa dengan orangnya.
“Saya datang dari negeri yang jauh. Saya…” Lanjutnya.
“Awkay, kamerad John. Atau siapapun kamu….” Marilyn memotong.
“Mengapa kamu bisa tiba sampai disitu?” Marilyn sambil mendekapkan kedua tangannya di depan dada. Menelisik John dari kaki sampai ujung topi. Sambil mengepulkan lagi asap sigaret.
“Aku cuma ingin mengobrol denganmu. Itu saja.”
“Oke, silakan ngomong………..” Marilyn membiarkan John detik itu menjadi pria paling bodoh sedunia.
“Hmm. John, Namamu itu sama dengan nama depan My dear Keanny” Pungkas Marilyn.
“My dear Keanny? Siapa itu?” John bertanya.
“Ah, kamu juga nanti tahu. Dia sering muncul di televise..” Marilyn sambil membalikan badan.
“Oh, oke, hmm..saya merasa terhormat bisa ngobrol disini…” John malu-malu.
“Terus, kalau cuma mau ngobrol-ngobrol, kenapa harus sembunyi di kolong tempat tidur segala?” Marilyn. Ketus.
“Karena kamu seorang Marilyn Monroe. Dan saya cuma seorang pencari suaka dari negeri Eropa “coret”. Saya disini demi Elvis. Demi musik Blues. Dan demi anda….” John masih dengan tergugup. Tapi agak tersenyum. Menggigit jari.
Marilyn ikut tersenyum. Terlihat deretan giginya yang agak berantakan.
“Simbol kapitalis yang menyenangkan” Sahut John. Dalam hati.
Marilyn mengambil sloki dari laci. Kemudian menuangkan Classic Chauvignon tahun `32 dari lemari. Astaga! Ketika mengangkat tangan untuk mengambil wine itu. terlihat punggungnya yang putih. Berkilau karena pantulan dari lampu di sebelah. Seputih marmer. Agak berlebihan memang, seperti kalimat iklan saja. tapi minimal itulah padanan kata yang sanggup keluar pada detik itu.
Dia mulai menyalakan piringan hitam.
“All Through The Night ” dari Ella Fitzgerald. Halah.
“Fitzgerald ya? Hmm, dia setara dengan Kahlo. Kamu tahu Kahlo? Temannya Leon Trotsky? Frida Kahlo?” John mulai menunjukan antusias.
“Tidak, tidak. Aku bukan orang terpelajar, hmm, tapi buatkan aku satu puisi saja..” Pinta Marilyn.
John sibuk berpikir. Ia melihat wajah Marilyn. Berusaha menangkap kata-kata yang sepadan dengan metafora organ-organ yang terpajang di kulit wajah.
“Oke..” John. Sambil menahan nafas. Kemudian terdengar suara.

Puisi Pop Polandia a.k.a triple P
(karya John dari Krakow tentunya..)

Marshmallow. Aku datang dari Krakow.
Cucumber. Aku sambar
Venotti. Masih sendiri.
Blueberry. Agak basi.
Vanilla. Karena Cinta itu tidak berskala.

Aku Mae west. Kamu Jean Harlow.
Kita beres-beres. Aku malah galau.
Aku suka Elvis. Kamu suka Sinatra.
Kamu pipis. Aku gugup menghafal mantra.
Abrakadabra! Biarkan cinta kita bermain…
Maukah Marilyn?
….
Ahm. Hehe. Marilyn hanya menahan tawa. Tampak bening. Namun dia membuat John tampak seperti badut di karnaval. Setidaknya dengan tidak memakai mascara atau sepatu boot panjang. Mirip logo gerai makanan cepat saji saja.
“Bagus sekali.” Marilyn dengan wajahnya yang berbinar.
“Oh ya? Terima kasih” John merasa senang juga.
“Chauve?” Marilyn masih mencoba menawarkan sesloki wine itu.
“Terima kasih, lambung saya hanya sanggup buat Ice Vodka dari Warsawa”
Kemudian Marilyn mulai bercerita tentang kota kelahirannya, Los angeles, 1926. Norma Jean Baker. Betapa dia merindukan dipanggil dengan nama itu. Betapa dia merindukan Gladys, Ibunya. Dan dia akan berniat mati malam ini.
“Mati?” John agak terperanjat. Bukan alang kepalang
“Iya, ide yang bagus bukan?” Marilyn hanya tersenyum. Manis.
“Ngomong-ngomong kemarin aku baru dapat surat cinta dari Castro. Ahaha.”
“Dia mencoba membuat My dear Johnny Kennedy cemburu. Hehe.”
“Politik itu tidak sebenarnya cuma pesta pora.” Lanjut Marilyn.
“Aku justru memanfaatkan mereka”
“Demi sebuah pencapaian kata kesempurnaan”
“Atau nafsu? Dan eksploitasi tentunya. Ahaha.” Marilyn terbahak. Menertawakan diri sendiri.
“Eksploitasi? Di negeri saya, kata eksploitasi cuma buat tambang batubara. Atau tambang tembaga. Atau …” John menyela.
“Hmm. John, aku adalah tambang juga buat mereka. Dari olahragawan sampai kaum edukasiwan.” Marilyn tidak kalah menyela cuma agak menerawang.
“Joe DiMaggio? Arthur Miller? Ah, mereka cuma menafsuiku saja.” Marilyn. Sambil menyebut nama mantan-mantan suaminya terdahulu.
“Begini John. Aku tidak ingin dikenang sebagai nenek peot yang dulunya adalah simbol seks bukan? Aku sudah tidak percaya lagi dengan kata-kata mereka. Bagiku hanya film yang terasa nyata. Aku bisa membuat diriku keluar sebebas mungkin.”
Marilyn jeda sejenak. Sambil meminum satu tegukan.
“Sedangkan aku yang sedang berdiri didepanmu ini cuma berpura-pura. Mereka hanya ingin melihat gadis pirang yang roknya tersingkap sedikit tertiup angin. Mungkin sambil masturbasi. Just like a Marilyn Monroe, big ass, big breast, big deal…”
“Mati adalah jalan terbaik. Setiap orang bernasib mati pada akhirnya.” Marilyn.
“Sebab kamu tidak bisa menghindar dari nasib. John, kematian itu adalah sesungguhnya dunia yang nyata.”
“Aku mati. Karena aku tidak ingin dikenal sebagai pesolek. Hal yang sangat mereka inginkan, my dear baby...” Marilyn dengan logat yang dimanja-manja.
“Dengan mati, minimal aku tidak perlu bersedih karena tangisan orang yang memang sangat kehilangan aku.”
“Maukah kamu membantuku?” Marilyn setengah mengiba.
“Tidak…” John setengah bergumam. Sambil menghadap cermin. Berusaha untuk tidak menatap Marilyn secara langsung.
“Sebab kalau kamu mati, saya akan menangis…” John agak tertunduk.
“Itu bukan sesuatu yang adil…” John masih menggumam.
Marilyn agak termenung. Seandainya si John ini datang lebih awal lima tahun. Mungkin situasinya tidak akan begini. Dalam hati.
“Tapi setidaknya kamu akan melihat wajahku tersenyum selamanya.” Marilyn mencoba menghibur.
“Aku berjanji. Kalau nanti malaikat datang. Aku akan berusaha tersenyum. Seberapapun sakitnya.” Menit itu Marilyn terlihat sangat naif.
Berpikir keras. Terbawa perasaan. Melihat jam.
“Sudah waktunya, ……..John Krakow.”
Karena sejarah akan mencatat pada jam sekian, tanggal sekian, tahun sekian sang bintang meninggal dunia. Atau tewas. Kita harus menentukan pilihan. Waktu yang paling baik.
Tanpa pikir panjang lagi. Marilyn menenggak segenggam pil tidur. Rupanya dia sudah menyiapkan benda-benda bulat itu dalam genggamannya. John hanya tercekat.
“Norma Jean!............” John memanggil Marilyn dengan nama kecilnya.
Yang dipanggil hanya menoleh sedikit. Beberapa menit kemudian. Sambil rebahan di ranjang. Aktris itu agak batuk-batuk. John ikut terduduk disampingnya. Berkeringat. Mendekap bantal bergambar Mickey Mouse. Beberapa menit kemudian. Agak mengeluarkan suara erangan. Berusaha mengucapkan sebuah kalimat.
“……Kamu lihat cahaya John?” Sahut Marilyn.
John dari Krakow tidak menyahut. Perasaan dia sudah tidak karuan.
“John?.....” Marilyn sayup-sayup memanggil.
“Oke, ehm, Sekarang aku akan ceritakan sedikit rahasia…” Agak kepayahan.
“A-apa?” John setengah gelisah.
“Tapi ini rahasia ya?” Marilyn meminta John.
John hanya mengangguk.
“Coba dekatkan telingamu…”
Demi Marilyn. John mendekatkan kepalanya kearah wajahnya yang sedang sekarat.
“Eugh.., a-aku cinta kamu John. Tiga puluh menit yang lalu aku jatuh cinta padamu. John dari Krakow,…”
“….atau siapapun kamu”
Ada sedikit suara menggeram. Dan sesenggukan.
Akhirnya Marilyn tersenyum. Selamanya.
Sangat indah. Berdua di sabtu malam. Saling mencintai. Walaupun salah satunya mati. Marilyn. Wanita dengan kecantikan sangat bening yang menjadikannya sebagai objek cinta jutaan pria kesepian dan yang tidak terpuaskan itu tidak memiliki kencan pada malam ini. Pernak-pernik narasi selebritas. Bukan kesialan atau malapetaka bintang tenar.
Dia bukan seorang Elizabeth Taylor. Tidak pula seanggun Faye Dunaway. Dia hanya seorang Marilyn. Seorang anak haram yang terpental dari satu rumah ke rumah yang lain. Dia adalah monument hidup tentang sesumbar Amerika itu dalam pencapaian hidup.
Teringat sesuatu. John segera berkemas. Meninggalkan kamar hotel. Lewat jendela.
Begitulah. John dari Krakow sebenarnya adalah orang yang membantu Marilyn menggapai ketenaran abadi. Orang yang pernah sangat berarti di 30 menit menjelang Marilyn mati. Tapi tidak pernah dipublikasikan media. Media? Ah, memangnya media sekarang milik siapa. Yang jelas, telah terjadi peristiwa Everlasting stardust. Apapun istilahnya. Sebuah fenomena alam semesta yang menakjubkan. Kematian bintang. Namun tetap berkilauan selamanya.
---
Besoknya ada surat. Mampir di kantor Century 20th Fox.
“Dear Marilyn……….”
Kemarin adalah hari yang paling bahagia. saya jadi tahu mengapa kamu begitu indah. Terlalu indah untuk dicintai. Walaupun agak terdengar gombal. Tapi minimal saya tidak mendapat uang sepeserpun dari hasil menjadi stalkermu yang paling setia.
Dari orang yang selalu menjadi “Marilyn Mabukism”.

PS : saya namakan marilyn mabukism karena situasional.
- John -

Surat itu hanya jadi salah satu dari sekian banyak remahan kertas yang teronggok di lantai begitu saja.
Dunia berkabung. Tapi hanya beberapa yang sangat bersedih. Dengan tulus.

snowstorm

"aku menghadiahkan sesuatu untukmu, yg sederhana dan yg tidak mampu dibuat oleh mesin mesin manapun di dunia. Yg kumaksud adalah cintaku"
***
Kakekku bercerita tentang ini...
"kamu tahu? Betapa berharganya ia (nenekku) di hidupku. Aku semakin mencintai uban di kepalanya, menyukai pipi tirusnya dan kerutan di dahinya. Ia cantik sekali seperti usia tujuh belas. Selebihnya, ia istri yg penurut, dan kekasih yg kunantikan di tapal waktu."

(berhenti sejenak karena sang kakek mengambil syal biru dari kamarnya)


"dan ini..."(kakek menunjukkan syal berwarna indigo)

(aku bertanya)
"bukan... Ini bukan darinya(nenekku), tapi dari cinta pertamaku.
Awalnya sangat sekali aku takut kalau ia (nenekku) bertingkah aneh dan aku menakuti kalau ia tidak mengajakku mengobrol seharian penuh gara gara syal itu. Tapi aku salah, bahkan ia (nenekku) yg menyimpannya untukku. Dan kemudian aku memeluknya setelah ia katakan
'cinta itu untuk dihargai bukan untuk dicemburui. Simpan syal itu baik baik karna aku tidak apa apa'
...mungkin ia (nenekku) menungguku sekarang. Sudah sebulan ini aku tidak mengunjungi makamnya. Ah,aku sangat kangen"
***

..kamu bodoh,aku juga.



"Tentang cinta yg datang perlahan, membuatku takut kehilangan."(TENTANG RASA : ASTRID)
***
Yang aku lakukan, berdoa semoga ban keretanya kempes saat kamu mau balik. Meski terlihat bodoh,tapi aku suka melakukan itu.
***
Masih ingat cerita soal masjid??
Hahahaha..
Kali ini kamu yg bodoh! Berniat menginap semalaman di masjid dengan nyamuk nyamuk dan udara dingin.
"kalo kedinginan?"
"gampang!ada sarung."
"bantalnya?"
"tumpukan rukuh"
...dasar gila! Masjid kamu bilang hotel!
"kamar mandi?ada. Kipas angin?ada. Selimut?banyak. Lampu?terang menyala. Plus microfon,lumayan buat karaokean. Ntar kalo bosen,ada buku banyak buat dibaca(al-qur'an kamu bilang buku?)"
katamu. kesal! Aku cubitin tanganmu saat itu. Memelas agar tidak melakukan itu. Karna aku tau, semalaman kamu kelelahan di kereta.
***
ya..ya..ya..
Kamu laki laki sederhana yg luar biasa..!
:)
mau saja tidur dengan dua tangan berlipat di depan layar komputer. Bermalam di warnet yg buka 24jam di kotaku!
(bodoh!T_T)
***
aku seneng,nasi goreng buatanku habis kamu makan. Meskipun rasanya gak karuan.hehe

terima kasih ya..
Kamu baik,dan aku juga akan baik karenamu.
:)

                                20 November 2010
                                         20:15

Lelaki Penyayang
“He’s my .... Thus, I do love him.”
"mencintaimu adalah bahagia dan sedih: bahagia karena memilikimu dalam kalbu , sedih karena kita sering berpisah" __Ws Rendra

Aku hanya mengetahui dua hal dari dirinya. Kesatu : biasa saja dan kedua : tetap biasa saja.
Dia seperti alkohol untukku, dingin! dan seperti polyol, manis!

Aku suka ia mendengarkan ceritaku, menyimaknya lalu tertawa. 
Sebaliknya, aku selalu ingin mengetahui apapun yang ia lakukan hari kemarin atau hari ini. satu saja yang sama darinya, sulit berbagi. aku paham perlahan-lahan.

Bagaimanapun juga yang akan aku ingat adalah hal gila hari kemarin darinya untukku. tentang perjalanan di atas motor ber kilometer, tentang secangkir kopi panas di subuh hari, dan tentang apapun yang membuatku mengingat ngingat sambil tertawa menahan pipis.

Dalam optimisme ku sendiri, aku menjadi orang yang selalu berpikiran tak mesuk akal. Begitu juga saat ini. Aku duduk. mengetik. dan mengingat. aku suka! mengingatnya dan menuliskan cerita tentangnya.

...

 

b.r

Bram, sayangku...

Seharusnya aku tidak mengabaikan rasa rinduku ini semenjak aku mengoles selai di roti pada pagi hari tadi..

Kamu tau, bram?
Aku telah beberapa kali memanjat ke atas sumur, berlari menyebrang jalan dan menaiki tangga Biara Jesuit La Clericia. Tapi aku lebih mengingatmu terus menerus.

Aku telah mengatakannya berkali-kali, tetapi aku harus mengatakannya sekali lagi dan sekali ini berbentuk tulisan.
Bram, yang terjadi dalam diriku menjadikan segalanya semakin mengerikan. Jika saja aku punya keluarga di negara lain, mungkin aku akan pergi ke sana. Berharap perjalanan panjangku akan menyenangkan.
Dan sekarang,aku ingin berbaikan denganmu..