Klematis
Add a description of the image here
Klematis
Add a description of the image here
Klematis
Add a description of the image here
Klematis
Add a description of the image here
-->
Showing posts with label CERPEN. Show all posts
Showing posts with label CERPEN. Show all posts

Wednesday, April 27, 2011

dari kurcaci ungu


Maret 1995, tak akan pernah aku lupakan pagi itu, saat salju menutupi separuh atap rumahku.
---
Menjadi anak angkat dikeluarga Wenzel,hal terburuk dalam hidupku.Nava Wenzel,aku tak pernah menyukai namaku.Kulit dan rambutku hitam,sdikit ikal.Sangat membosankan ketika menjawab pertanyaan dari beberapa orang yg tak mengetahui asal-usulku. 'kamu sangat berbeda dgn sodara perempuanmu Ann,Marie,Jill',kata Duma temanku,saat umurku 6 tahun.Untuk pertama kalinya aku menangis,berlari ke taman Heisell di ujung kota.Ya,aku diadopsi oleh keluarga Wenzel ketika umurku 3bulan.
---
Umurku 8tahun ketika aku semakin tak karuan.Ya,aku sangat nakal!Joana,ibu angkatku,sering memarahiku.Aku semakin berulah.Sering memecahkan vas bunga di ruang tamu,menuangkan cat lukis ke karpet,merusakkan mesin pencuci piring,merobek gaun Ann,menghilangkan sepatu sekolah Jill dan aku sengaja mencuri makanan tetangga kami,nyonya Emory.
Setelah melakukan semua kenakalan itu, Aku mengumpat dan bersembunyi d balik pohon besar di taman heissel.Hanya saja,Franz[ayah angkatku] selalu menemukanku dan membawaku pulang,ia tidak memarahiku.
'Yg kamu lakukan itu akan menyusahkan orang lain' kata ayah sambil memelukku.
---
Suatu saat,ketika aku berulang tahun yg k-9. Ann,Marie,Jill menghadiahiku boneka rapunzell.Mereka tersenyum,tapi aku menatap sinis.Ayah mengajakku naik kuda dan Ibu membuatkan kue tart dgn warna-warni permen karet.Aku tidak merasa bahagia,hingga pertanyaanku membuat ayah memelukku lagi.
'kenapa kalian tidak membuatkan aku pesta?kenapa tidak mengundang anak" tetangga,kerabat,teman kerja Franz seperti pesta Ann,marie,jill di tahun" lalu?apakah kalian malu aku ada di sini?'
-the end-

aumy mulo


Somasensory-ku ingin merasakan kepiting rebus dengan bumbu cabai 25 butir merah-merah. Aku ingin makan sampai MUNTAH!!
***
Sejak aku bisa mengucapkan barisan alfabet namaku A-U-M-Y M-U-L-O sambil menggerak-gerakkan rok tutu punyaku,aku tidak pernah suka dengan KUCING. Agaknya aku dan kucing,sama-sama saling menakuti. Kulempar apa saja benda punyaku untuk mengusir mereka.
Dan ini cerita yg lain..
Anak laki-laki di kelas 3 A ,menyukaiku. Namanya agak susah diingat,yg jelas teman-temannya memanggil 'HEIDI'. Aku tahu itu dari teman sebangkuku.
***
Kalian tahu caranya mendekatiku?ini yg kutulis.
1. Ia sengaja meminta kunci loker Hema yg bersebelahan dengan lokerku. *kami bertemu di tiap pagi dan siang.
2. Bergabung di kongres sekolah yg sama sepertiku. *kami mengobrol di setiap rapat sampai sore.
3. Menitipkan motornya. *kami menaiki bus yg sama setiap harinya.
***
Aku semakin mengenalnya. Ia tertarik dengan sains, sangat menyukai kucing jenis mackerel taby yg berbulu tipis,berolahraga baseball,dan humoris! Jika saja sore ini ia datang ke rumahku dan mengatakan 'aku mencintaimu,Aumy. Dan aku ingin menjadi kekasihmu', akan aku jawab 'YA,aku juga ingin itu'.
***
Ini sudah terlalu banyak waktu,aku menantinya mengajakku berkencan. Tapi sangat payah keadaanku..menunggunya. 'Heidi..katakan yg aku mau darimu..!'.
Dan ia hanya meringis kala aku menyindirnya lembut.
'Aku akan jawab iya. Jangan khawatir.'
***
Hingga pesta akhir tahun tiba.
Malam itu aku berdandan seperti Bettina Graziani,top model paris yg menjadi idola mama-ku. Aku mengenakan baju dengan leher bukaan lebar dengan ruffled dari bahan broderie anglaise. Mereka bilang,aku sangat menarik.
Mataku tak mau diam,aku mencari sudut-sudut,depan,belakang. Yaph,kutemukan Heidi di depan lampu pesta. Aku menghampirinya. Ia menyebutku,'miss lolita...!' dan aku tersenyum meskipun dandananku tak sama sekali mirip lolita.
Kami mengobrol,dan yg kutunggu-tunggu..
'aumy,terimakasih.. Aku menyukaimu. Sangat-sangat menyukaimu. Mungkin tidak akan bisa aku mendapat teman sebaik kamu di Swiss nanti.'

ya..rasanya aku ingin makan sampai muntah! Lalu menonton Ten Deadliest Shark hingga mataku panas!
***
the end

“Eugh.., a-aku cinta kamu John. Tiga puluh menit yang lalu aku jatuh cinta padamu. John dari Krakow,…”

Ada keributan. Di kamar sebelah. Karena suara seksi Elvis Presley.
Di dalam ruangan satunya lagi. Agak pengap. Tampaknya ruangan itu baru disemprot aerosol untuk mengusir nyamuk. Hari ini hampir genap pertengahan tahun 1962. Dua tahun yang lalu, aerosol adalah penemuan umat manusia yang cukup menggemparkan. Membuat dia benda yang sedikit nge-pop.
Membuka pintu. Dari luar. Sebuah sosok yang mungkin kodifikasi dari sedikit bayangan gambar para malaikat berambut pirang di jendela gereja dan unsure mahluk local dunia, manusia. Seorang wanita tepatnya.
Perlahan wanita pirang itu mulai membuka baju hangatnya. Kemudian Stocking marun. Tampaknya longdress-nya yang setengah terbuka sampai paha. Mengambil sigaret. Mengepulkan asap perdana.
Agak termenung selama kurang dari satu menit.
Karena merasa ada yang janggal di ruangan itu. Sebuah suara nafas. Dari kolong tempat tidur.
“Haloo?........” Marilyn.
“Hmm, kamu keluar saja dari situ..” Marilyn suaranya agak keras.
Akhirnya sesosok tubuh kisut keluar dari situ. Karena selama tiga hari tiga malam, dia cuma makan dari remahan biskuit sisa makan pagi hotel. Berdiri. Merenggangkan otot. Mengupas-ngupas baju yang dekil. Batuk-batuk. Agak gugup.
“Kamu siapa?” Marilyn bertanya. Dengan mata sendunya yang tajam. Tampaknya dia sudah biasa dikuntit orang.
“Euh, saya John. John dari Krakow” John agak tergugup. Menyebut sebuah nama kota di Polandia. Negara komunis yang lusuh saat ini. Serupa dengan orangnya.
“Saya datang dari negeri yang jauh. Saya…” Lanjutnya.
“Awkay, kamerad John. Atau siapapun kamu….” Marilyn memotong.
“Mengapa kamu bisa tiba sampai disitu?” Marilyn sambil mendekapkan kedua tangannya di depan dada. Menelisik John dari kaki sampai ujung topi. Sambil mengepulkan lagi asap sigaret.
“Aku cuma ingin mengobrol denganmu. Itu saja.”
“Oke, silakan ngomong………..” Marilyn membiarkan John detik itu menjadi pria paling bodoh sedunia.
“Hmm. John, Namamu itu sama dengan nama depan My dear Keanny” Pungkas Marilyn.
“My dear Keanny? Siapa itu?” John bertanya.
“Ah, kamu juga nanti tahu. Dia sering muncul di televise..” Marilyn sambil membalikan badan.
“Oh, oke, hmm..saya merasa terhormat bisa ngobrol disini…” John malu-malu.
“Terus, kalau cuma mau ngobrol-ngobrol, kenapa harus sembunyi di kolong tempat tidur segala?” Marilyn. Ketus.
“Karena kamu seorang Marilyn Monroe. Dan saya cuma seorang pencari suaka dari negeri Eropa “coret”. Saya disini demi Elvis. Demi musik Blues. Dan demi anda….” John masih dengan tergugup. Tapi agak tersenyum. Menggigit jari.
Marilyn ikut tersenyum. Terlihat deretan giginya yang agak berantakan.
“Simbol kapitalis yang menyenangkan” Sahut John. Dalam hati.
Marilyn mengambil sloki dari laci. Kemudian menuangkan Classic Chauvignon tahun `32 dari lemari. Astaga! Ketika mengangkat tangan untuk mengambil wine itu. terlihat punggungnya yang putih. Berkilau karena pantulan dari lampu di sebelah. Seputih marmer. Agak berlebihan memang, seperti kalimat iklan saja. tapi minimal itulah padanan kata yang sanggup keluar pada detik itu.
Dia mulai menyalakan piringan hitam.
“All Through The Night ” dari Ella Fitzgerald. Halah.
“Fitzgerald ya? Hmm, dia setara dengan Kahlo. Kamu tahu Kahlo? Temannya Leon Trotsky? Frida Kahlo?” John mulai menunjukan antusias.
“Tidak, tidak. Aku bukan orang terpelajar, hmm, tapi buatkan aku satu puisi saja..” Pinta Marilyn.
John sibuk berpikir. Ia melihat wajah Marilyn. Berusaha menangkap kata-kata yang sepadan dengan metafora organ-organ yang terpajang di kulit wajah.
“Oke..” John. Sambil menahan nafas. Kemudian terdengar suara.

Puisi Pop Polandia a.k.a triple P
(karya John dari Krakow tentunya..)

Marshmallow. Aku datang dari Krakow.
Cucumber. Aku sambar
Venotti. Masih sendiri.
Blueberry. Agak basi.
Vanilla. Karena Cinta itu tidak berskala.

Aku Mae west. Kamu Jean Harlow.
Kita beres-beres. Aku malah galau.
Aku suka Elvis. Kamu suka Sinatra.
Kamu pipis. Aku gugup menghafal mantra.
Abrakadabra! Biarkan cinta kita bermain…
Maukah Marilyn?
….
Ahm. Hehe. Marilyn hanya menahan tawa. Tampak bening. Namun dia membuat John tampak seperti badut di karnaval. Setidaknya dengan tidak memakai mascara atau sepatu boot panjang. Mirip logo gerai makanan cepat saji saja.
“Bagus sekali.” Marilyn dengan wajahnya yang berbinar.
“Oh ya? Terima kasih” John merasa senang juga.
“Chauve?” Marilyn masih mencoba menawarkan sesloki wine itu.
“Terima kasih, lambung saya hanya sanggup buat Ice Vodka dari Warsawa”
Kemudian Marilyn mulai bercerita tentang kota kelahirannya, Los angeles, 1926. Norma Jean Baker. Betapa dia merindukan dipanggil dengan nama itu. Betapa dia merindukan Gladys, Ibunya. Dan dia akan berniat mati malam ini.
“Mati?” John agak terperanjat. Bukan alang kepalang
“Iya, ide yang bagus bukan?” Marilyn hanya tersenyum. Manis.
“Ngomong-ngomong kemarin aku baru dapat surat cinta dari Castro. Ahaha.”
“Dia mencoba membuat My dear Johnny Kennedy cemburu. Hehe.”
“Politik itu tidak sebenarnya cuma pesta pora.” Lanjut Marilyn.
“Aku justru memanfaatkan mereka”
“Demi sebuah pencapaian kata kesempurnaan”
“Atau nafsu? Dan eksploitasi tentunya. Ahaha.” Marilyn terbahak. Menertawakan diri sendiri.
“Eksploitasi? Di negeri saya, kata eksploitasi cuma buat tambang batubara. Atau tambang tembaga. Atau …” John menyela.
“Hmm. John, aku adalah tambang juga buat mereka. Dari olahragawan sampai kaum edukasiwan.” Marilyn tidak kalah menyela cuma agak menerawang.
“Joe DiMaggio? Arthur Miller? Ah, mereka cuma menafsuiku saja.” Marilyn. Sambil menyebut nama mantan-mantan suaminya terdahulu.
“Begini John. Aku tidak ingin dikenang sebagai nenek peot yang dulunya adalah simbol seks bukan? Aku sudah tidak percaya lagi dengan kata-kata mereka. Bagiku hanya film yang terasa nyata. Aku bisa membuat diriku keluar sebebas mungkin.”
Marilyn jeda sejenak. Sambil meminum satu tegukan.
“Sedangkan aku yang sedang berdiri didepanmu ini cuma berpura-pura. Mereka hanya ingin melihat gadis pirang yang roknya tersingkap sedikit tertiup angin. Mungkin sambil masturbasi. Just like a Marilyn Monroe, big ass, big breast, big deal…”
“Mati adalah jalan terbaik. Setiap orang bernasib mati pada akhirnya.” Marilyn.
“Sebab kamu tidak bisa menghindar dari nasib. John, kematian itu adalah sesungguhnya dunia yang nyata.”
“Aku mati. Karena aku tidak ingin dikenal sebagai pesolek. Hal yang sangat mereka inginkan, my dear baby...” Marilyn dengan logat yang dimanja-manja.
“Dengan mati, minimal aku tidak perlu bersedih karena tangisan orang yang memang sangat kehilangan aku.”
“Maukah kamu membantuku?” Marilyn setengah mengiba.
“Tidak…” John setengah bergumam. Sambil menghadap cermin. Berusaha untuk tidak menatap Marilyn secara langsung.
“Sebab kalau kamu mati, saya akan menangis…” John agak tertunduk.
“Itu bukan sesuatu yang adil…” John masih menggumam.
Marilyn agak termenung. Seandainya si John ini datang lebih awal lima tahun. Mungkin situasinya tidak akan begini. Dalam hati.
“Tapi setidaknya kamu akan melihat wajahku tersenyum selamanya.” Marilyn mencoba menghibur.
“Aku berjanji. Kalau nanti malaikat datang. Aku akan berusaha tersenyum. Seberapapun sakitnya.” Menit itu Marilyn terlihat sangat naif.
Berpikir keras. Terbawa perasaan. Melihat jam.
“Sudah waktunya, ……..John Krakow.”
Karena sejarah akan mencatat pada jam sekian, tanggal sekian, tahun sekian sang bintang meninggal dunia. Atau tewas. Kita harus menentukan pilihan. Waktu yang paling baik.
Tanpa pikir panjang lagi. Marilyn menenggak segenggam pil tidur. Rupanya dia sudah menyiapkan benda-benda bulat itu dalam genggamannya. John hanya tercekat.
“Norma Jean!............” John memanggil Marilyn dengan nama kecilnya.
Yang dipanggil hanya menoleh sedikit. Beberapa menit kemudian. Sambil rebahan di ranjang. Aktris itu agak batuk-batuk. John ikut terduduk disampingnya. Berkeringat. Mendekap bantal bergambar Mickey Mouse. Beberapa menit kemudian. Agak mengeluarkan suara erangan. Berusaha mengucapkan sebuah kalimat.
“……Kamu lihat cahaya John?” Sahut Marilyn.
John dari Krakow tidak menyahut. Perasaan dia sudah tidak karuan.
“John?.....” Marilyn sayup-sayup memanggil.
“Oke, ehm, Sekarang aku akan ceritakan sedikit rahasia…” Agak kepayahan.
“A-apa?” John setengah gelisah.
“Tapi ini rahasia ya?” Marilyn meminta John.
John hanya mengangguk.
“Coba dekatkan telingamu…”
Demi Marilyn. John mendekatkan kepalanya kearah wajahnya yang sedang sekarat.
“Eugh.., a-aku cinta kamu John. Tiga puluh menit yang lalu aku jatuh cinta padamu. John dari Krakow,…”
“….atau siapapun kamu”
Ada sedikit suara menggeram. Dan sesenggukan.
Akhirnya Marilyn tersenyum. Selamanya.
Sangat indah. Berdua di sabtu malam. Saling mencintai. Walaupun salah satunya mati. Marilyn. Wanita dengan kecantikan sangat bening yang menjadikannya sebagai objek cinta jutaan pria kesepian dan yang tidak terpuaskan itu tidak memiliki kencan pada malam ini. Pernak-pernik narasi selebritas. Bukan kesialan atau malapetaka bintang tenar.
Dia bukan seorang Elizabeth Taylor. Tidak pula seanggun Faye Dunaway. Dia hanya seorang Marilyn. Seorang anak haram yang terpental dari satu rumah ke rumah yang lain. Dia adalah monument hidup tentang sesumbar Amerika itu dalam pencapaian hidup.
Teringat sesuatu. John segera berkemas. Meninggalkan kamar hotel. Lewat jendela.
Begitulah. John dari Krakow sebenarnya adalah orang yang membantu Marilyn menggapai ketenaran abadi. Orang yang pernah sangat berarti di 30 menit menjelang Marilyn mati. Tapi tidak pernah dipublikasikan media. Media? Ah, memangnya media sekarang milik siapa. Yang jelas, telah terjadi peristiwa Everlasting stardust. Apapun istilahnya. Sebuah fenomena alam semesta yang menakjubkan. Kematian bintang. Namun tetap berkilauan selamanya.
---
Besoknya ada surat. Mampir di kantor Century 20th Fox.
“Dear Marilyn……….”
Kemarin adalah hari yang paling bahagia. saya jadi tahu mengapa kamu begitu indah. Terlalu indah untuk dicintai. Walaupun agak terdengar gombal. Tapi minimal saya tidak mendapat uang sepeserpun dari hasil menjadi stalkermu yang paling setia.
Dari orang yang selalu menjadi “Marilyn Mabukism”.

PS : saya namakan marilyn mabukism karena situasional.
- John -

Surat itu hanya jadi salah satu dari sekian banyak remahan kertas yang teronggok di lantai begitu saja.
Dunia berkabung. Tapi hanya beberapa yang sangat bersedih. Dengan tulus.

Mencintai yang Belum Sempat Dicintai

"Beri saya sebuah planet yang hidup!"

***

"saya seorang katolik." hanya itu yang diucapkannya sambil melambaikan tangan untuk menunjukkan bahwa tidak ada yang dapat ia tambahkan.

...kami berpisah saat itu juga.

***

Setelah kejadian malam itu, aku nyaris berniat menceburkan diri ke sungai kota sedalam lima meter. Sambil terisak-isak aku berjinjit-jinjit menahan agar tidak ada cairan asin yang keluar dari mataku.
Dan pagi harinya aku menolak sarapan bersama kedua orangtuaku karena kedua mataku membesar akibat semalaman terus berair.

***

Sekarang, kami dipertemukan kembali di depan toko kue yang berjarak lima kilometer dari sekolah kami dulu. Hampir delapan tahun. Dan rasanya sangat aneh. Aku tersenyum. Ia tersenyum cantik. Kami saling senyum untuk periode waktu yang cukup lama, sambil memikirkan kalimat apa yang akan kami katakan untuk perjumpaan awal ini.

"Sakitkah?"

aku menggeleng

"Aku mengakui memiliki beberapa kelemahan sepele." ujarnya sambil mengambil vanilla cupcakes dari sebelah kiriku.

"Maksudnya?" tanyaku

"Aku merasa tidak kehilangan apapun dengan melakukan pengakuan ini. Bagaimanapun kita tidak perlu terlalu menyembunyikan perasaan dari seekor tokek jumbo." ia tersenyum kembali dengan dagu yang manis.

"Katakanlah." aku semakin tak sabar

"Apa yang telah hilang dariku adalah sesuatu yang sangat berarti. Kamu dan aku. Kenapa kita tidak mencobanya sekarang? Aku sudah sama dengan apa yang kamu yakini dari dulu. kita seiman." ia menaikkan alisnya setinggi 2 cm

"ehhh...hmm...maaf Carisa. Aku sudah menikah dan memiliki dua orang anak."

Ia terdiam.

"aku akan mencintai yang belum sempat aku cintai..."

Wednesday, February 23, 2011

##MENCINTAI YANG BELUM SEMPAT DICINTAI

"Beri saya sebuah planet yang hidup!"

***

"saya seorang katolik." hanya itu yang diucapkannya sambil melambaikan tangan untuk menunjukkan bahwa tidak ada yang dapat ia tambahkan.

...kami berpisah saat itu juga.

***

Setelah kejadian malam itu, aku nyaris berniat menceburkan diri ke sungai kota sedalam lima meter. Sambil terisak-isak aku berjinjit-jinjit menahan agar tidak ada cairan asin yang keluar dari mataku.
Dan pagi harinya aku menolak sarapan bersama kedua orangtuaku karena kedua mataku membesar akibat semalaman terus berair.

***

Sekarang, kami dipertemukan kembali di depan toko kue yang berjarak lima kilometer dari sekolah kami dulu. Hampir delapan tahun. Dan rasanya sangat aneh. Aku tersenyum. Ia tersenyum cantik. Kami saling senyum untuk periode waktu yang cukup lama, sambil memikirkan kalimat apa yang akan kami katakan untuk perjumpaan awal ini.

"Sakitkah?"

aku menggeleng

"Aku mengakui memiliki beberapa kelemahan sepele." ujarnya sambil mengambil vanilla cupcakes dari sebelah kiriku.

"Maksudnya?" tanyaku

"Aku merasa tidak kehilangan apapun dengan melakukan pengakuan ini. Bagaimanapun kita tidak perlu terlalu menyembunyikan perasaan dari seekor tokek jumbo." ia tersenyum kembali dengan dagu yang manis.

"Katakanlah." aku semakin tak sabar

"Apa yang telah hilang dariku adalah sesuatu yang sangat berarti. Kamu dan aku. Kenapa kita tidak mencobanya sekarang? Aku sudah sama dengan apa yang kamu yakini dari dulu. kita seiman." ia menaikkan alisnya setinggi 2 cm

"ehhh...hmm...maaf Carisa. Aku sudah menikah dan memiliki dua orang anak."

Ia terdiam.

"aku akan mencintai yang belum sempat aku cintai..."

Tuesday, February 1, 2011

RECEHAN UANG 500 RUPIAH

“sewaktu kecil, aku sering memainkan lipstik milik ibuku hingga tinggal separo. Dan aku suka bergaya mirip pengantin dengan pemerah pipi yang menempel rusuh di kerah bajuku... aku merasa cantik saat itu.” [HALTE BUS 09.23] Mas Romli di sudut sana, menanti kembalian recehan untuk air mineral seribu lima ratus rupiah yang ia beli. Lalu kembali duduk anteng di sebelahku. Tersenyum, “Minum, dik?” “Nanti saja, mas.” Tolakku sambil membetulkan jilbab. Aku menahan-nahan tangis. Kami diam. Mas Romli membuka tutup botol, meminumnya. Kami diam. Aku mengamati penjual majalah edisi lawas. Kami diam. Mas Romli memainkan recehan-recehan lima ratus. Kami diam, hingga akhirnya pengamen kecil dengan bekas seragam pramuka yang telah robek saku depannya datang dan mengantongi recehan lima ratus itu. Kami tetap diam. [DI DALAM BUS JAYA MAJU 10.02] Aku membuka kaca bus, mengarahkan pandanganku, aku tersenyum. Mas Romli melambaikan tangan ke arahku. Ah, seandainya aku tidak melemah jika dengannya tadi. Akan kukatakan, “Mas, tunggu aku lima tahun lagi. Lalu minta ke orang tuaku, ajak aku menikah.”... ...lamunanku buyar. Suara pengamen cilik tadi melengking, mengalahkan puluhan orang yang masih terlihat berebut tempat duduk. “aku rlindu ssetengah mati kepadamu...sungguh kuingin kau tau...aku rlindu setengah mati...kepadamu....” Ia belum fasih melafalkan huruf ‘R’ tetapi sudah pandai mencari uang. Dan ia berhasil mengumpulkan recehan-recehan uang di dalam sebuah kantong bekas bungkus permen. Sedangkan aku masih mengandalkan gaji bapak untuk kuliahku di Jogja. Ingat bapak dan ibu di rumah... “Mbak...”pengamen itu menyodorkan kantong plastik. Aku tesenyum, lalu ia kuberi lembar seribuan satu. “Mbak Arfi, ya?”ia menanyakan namaku. “Loh, tau darimana, le?” aku mengumpan tanya. “Lagu tadi buat mbak. Dari mas Romli, mbak. Ini aku dikasih sepuluh ribu.”ia ceritakan yang sesungguhnya, lalu pergi kekursi belakangku untuk kembali menyodorkan kantong plastiknya. JDEGGGG.... Merasakan semilir angin lewat jendela samping semakin sejuk. Aku sedikit menangis karena banyak-banyak senang. Aku menyukai caranya untukku...